Benteng Makasar, Kenangan Pecinan Tangerang

Pancoran - Sebuah benteng VOC yang pernah bersemayam di tepian Cisadane telah menautkan warga Tangerang dengan masa silamnya.

 

Bubungan atap Klenteng Boen Tek Bio di Tangerang, yang menampilkan aneka satwa dalam mitologi Cina: elang, ikan, burung phoenix, katak, dan naga. Kawasan pecinan ini merupakan hunian awal leluhur warga Cina Benteng, berlokasi di sisi selatan Benteng VOC. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
“Aku anak Benteng tapi di kota,” ungkap Mona Lohanda lewat sepucuk surat elektronik kepada saya. “Rumah sakit tempat aku dilahirkan adalah rumah sakit umum yang dibangun Belanda.” Mona merupakan seorang warga prominen Cina Benteng yang dikenal juga sebagai peneliti sejarah Batavia. Sudah empat dekade perempuan itu menekuni dunia kearsipan di Arsip Nasional Republik Indonesia.
Julukan ‘Cina Benteng’ awalnya ditujukan kepada penghuni pecinan yang berlokasi di sebelah selatan Benteng Makasar yang didirikan VOC di Tangerang. Seiring menyebarnya permukiman warga Cina, sebutan itu kian meluas hingga ke pelosok Tangerang. Sampai hari ini pun orang masih menyebut kawasan sekitar pecinan Pasar Lama Tangerang dengan julukan ‘Benteng’.
Sayangnya, “benteng itu sulit diketemukan jejaknya,” ungkapnya. “Yang aku tahu, tidak pernah ada penggalian-penelitian arkeologis. Aneh juga ya?”
Mona dilahirkan 66 tahun silam dan dibesarkan di sepetak kawasan dengan lajur-lajur gang yang disebut Benteng Makasar. “Itu ternyata,” ungkapnya, “sesudah aku tahu sejarah, adalah daerah 'Chineesche wijken', bersebelahan dengan gang Benteng Makasar.”

Dia berkisah tentang perubahan Kota Tangerang. Sekolah dan rumah sakit tempatnya lahir telah menjelma menjadi perkantoran. “Lay out kota banyak berubah, dan hampir sulit dikenali,” ungkapnya. “Komposisi penduduk juga berbeda banyak.”
Dahulu kala, warga peranakan Cina Benteng merupakan komunitas kebanyakan yang menghuni Tangerang. Warga lokal yang bukan peranakan adalah Betawi Udik. Umumnya mereka bertani. Bahasanya yang mereka gunakan tidak berbeda dengan dialek Betawi pinggiran.
Sementara, menurut Mona, warga pendatang kawasan ini adalah mereka yang hanya berprofesi sebagai pegawai negeri, guru, tentara, dan polisis. Mereka yang berbahasa Sunda pun umumnya berasal dari daerah Banten-Serang. “Tapi sekarang, wah, beraneka ragam lah,”
Tatkala pembentukan sistem swatantra, lanjut Mona, Tangerang tidak lagi menjadi bagian dari residensi Batavia. Kota kecil di barat Jakarta itu menjadi kabupaten, dan termasuk Jawa Barat. “Sekarang malah jadi Provinsi Banten,” ungkapnya, “padahal dari entitas bahasa dan budaya, kita ini Betawi, lho.”
(BthY-KAT#018)

Share on Google Plus

About Unknown

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar